AWAL YANG BAIK (SUSTAINABILITY)

Tidak dipungkiri, di tempat manapun, selama ada makhluk hidup, terutama yang dihuni manusia, pasti akan menghasilkan sampah.
Sampah yang ditinggalkan saat ini sudah sangat meresahkan. 

Jika jaman saya masih kecil, masih banyak halaman rumah-rumah penduduk yang bisa dipakai untuk membuat juglangan alias sebuah lubang besar tempat membuang sampah.
Yang nantinya sampah akan ditimbun dan menjadi kompos.

Nah, jaman sekarang... perumahan sudah padat. Apalagi tempat perantauan seperti tempat kami sekarang... 😙 sampah kebanyakan hanya di tumpuk di depan rumah, menunggu petugas pengambil sampah yang datangnya tiap hari Kamis saja.

Beruntungnya, masih ada komunitas-komunitas yang menghimbau dan mengajak praktek membuat biopori dan memilah sampah untuk dikirim ke bank-bank sampah atau dibuat kerajinan sendiri bersama keluarga.

Suatu hari, salah satu komunitas yang saya ikuti, akan menyelenggarakan latbar atau praktek membuat kue.
Disinilah kami membuat perubahan sedikit-sedikit.



Pada flyer atau pengumuan, kami cantumkan apa saja yang harus dibawa oleh peserta, selain barang-barang kebutuhan memasak.
Salah satu gebrakan kami adalah, peserta wajib membawa tumbler  dan wadah sendiri untuk membawa potluck. 
Untuk makan siang pun biasanya kami menyajikan dalam box kertas, sekarang kami menyediakan secara prasmanan.

Doc. By CnD

Pertama memang ada yang merasa canggung, tetapi perlahan-lahan kami memberikan pengertian, bahwa grup kita sedang melakukan sedikit penyelamatan pada bumi kita. Salah satu leader memberikan sedikit edukasi ditengah-tengah waktu latbar. Dan memperkenalkan wadah makan alternatif pengganti sterofoam. Meskipun sampai saat ini, gaungnya belum banyak didengar masyarakat.

Doc. By CnD

Langkah yang kami ambil ini, adalah awal yang menggembirakan, karena disambut baik oleh peserta latbar.
Dan terbukti, sampai beberapa bulan terakhir, kami menyelenggarakan latbar dengan minim sampah.
Senangnya lagi, peserta dan member baru pun sudah mulai terbiasa dengan budaya minim sampah yang kami sampaikan.


#materi3
#empati
#charity
#filantropi
#sustainability
#HabituasiSejutaCinta
#SejutaCinta
#IbuProfesional

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KAMI BUTUH MASKER (MINI PROJECT SABIA 2020)

PENGIKAT MAKNA (HTSC)

BELAJAR = BAHAGIA